Sumbarpro
KEMATIAN seorang wisatawan di Air Terjun Puncak Robo, Nagari Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, bukan sekadar musibah. Insiden itu membuka tabir bahwa pengelolaan wisata alam di kawasan tersebut selama ini berjalan tanpa jaminan keselamatan yang memadai.
Seorang perempuan muda tewas terseret arus deras saat duduk di aliran air yang landai. Tidak ada peringatan dini, tidak ada pemandu, tidak ada prosedur yang bisa mencegahnya. Kawasan wisata itu dibuka untuk umum tanpa pengamanan yang berarti.
Harau dikenal sebagai salah satu destinasi andalan Sumatera Barat. Namun popularitas itu tidak diikuti kesiapan pengelolaan. Lokasi air terjun harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar satu jam dari titik akses terakhir. Medannya terjal, bebatuan licin, dan minim fasilitas.
Informasi soal risiko arus deras tidak tersampaikan kepada pengunjung. Kawasan dibuka begitu saja tanpa kajian keselamatan yang memadai.
Akar persoalannya jelas. Kawasan itu belum memiliki kelompok pengelola yang permanen. Tidak ada aturan operasional yang baku. Tidak ada pemandu berpengalaman yang mendampingi wisatawan. Selama ini pengelolaan lebih bertumpu pada inisiatif warga dan kunjungan spontan.
Ketika musibah terjadi, barulah semua pihak bergerak. Pola reaktif seperti ini tidak boleh dibiarkan berulang.
Dampaknya tidak main-main. Penutupan kawasan membuat warga sekitar kehilangan penghasilan. Wisatawan kehilangan akses rekreasi yang aman. Reputasi pariwisata Limapuluh Kota dan Sumatera Barat ikut tercoreng. Yang lebih penting, nyawa menjadi taruhan.

Jika standar keselamatan tidak dibenahi, kejadian serupa bisa terjadi di destinasi lain yang memiliki karakter medan serupa di Ranah Minang.
Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota bersama Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga serta perangkat Nagari Harau tidak bisa berhenti pada penutupan sementara. Penutupan tanpa tindak lanjut hanya memindahkan masalah.
Pembentukan Pokdarwis yang permanen mesti segera diwujudkan. Susun aturan operasional yang tegas. Tetapkan jalur aman. Pasang rambu peringatan di titik rawan. Sediakan pemandu terlatih. Batasi akses ke area berbahaya. Siapkan peralatan keselamatan di lokasi.
Anggaran untuk infrastruktur keselamatan harus dialokasikan. Pelatihan bagi pemandu dan warga pengelola wajib dilakukan secara berkala. Sistem pemantauan cuaca dan debit air perlu dibangun. Pengunjung diberi informasi risiko sebelum masuk.
Edukasi keselamatan menjadi bagian dari paket wisata, bukan pelengkap. Pengelolaan berbasis keselamatan bukan biaya (cost), melainkan investasi jangka panjang.
Tragedi Puncak Robo harus menjadi titik balik. Keselamatan wisatawan tidak boleh dikorbankan demi kunjungan yang ramai. Pengelolaan wisata alam di Sumatera Barat perlu dibenahi menyeluruh, dimulai dari Harau.
Jangan tunggu ada korban lagi untuk bergerak. Nyawa manusia lebih berharga dari sekadar angka kunjungan. *
