MTQ Kota Padang dan Prestasi yang Harus Dirawat

Redaksi
A+A-
Reset
Editorial Media Online Sumbarpro

Sumbarpro

MUSABAQAH Tilawatil Qur’an ke-42 tingkat Kota Padang resmi berakhir. Kecamatan Koto Tangah keluar sebagai juara umum untuk kedua kali berturut-turut. Acara berlangsung meriah.

Wakil Wali Kota Padang Maigus Masir yang menutup kegiatan itu mengapresiasi penyelenggaraan yang dinilai sudah bertaraf nasional.

Sebanyak 636 kafilah dari 11 kecamatan berlaga dalam 13 cabang lomba. Total hadiah mencapai Rp599 juta. Semua itu patut kita syukuri. Syiar Al-Qur’an di ranah Minang memang hidup.

Tapi jangan berhenti pada perayaan. Jangan pula hanya bangga pada piala dan hadiah. Ada pekerjaan rumah besar yang menanti. Pembinaan generasi Qurani tidak cukup hanya dengan menggelar lomba setiap tahun. Butuh program berkelanjutan, sistem yang rapi, dan dukungan anggaran.

Pemerintah Kota Padang bersama LPTQ berencana mendirikan Pondok Al-Qur’an di 11 kecamatan mulai tahun 2027. Program ini akan disinergikan dengan Smart Surau yang sudah ada.

Tujuannya mulia. Melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an. Membina anak-anak sejak dini. Menyiapkan kafilah yang benar-benar putra daerah. Gagasan ini sangat baik.

Tapi jangan sampai Pondok Al-Qur’an setelah jadi hanya menjadi gedung kosong. Harus ada pengajar yang mumpuni, kurikulum yang jelas, dan evaluasi berkala. Paling penting, harus ada anggaran perawatan.

Pasang iklan anda di space ini, hubungi sumbarpro media online portal berita dan informasi terkini di whatsapp 081275690690

Pemko Padang juga akan meniadakan MTQ tingkat kecamatan demi efisiensi waktu. Alasannya masuk akal. Namun, kita perlu berhati-hati. Selama ini, MTQ kecamatan menjadi pintu masuk bagi anak-anak dari kampung dan pelosok. Di sanalah mereka pertama kali berani tampil dan bakat mereka ditemukan.

Jika kegiatan itu dihapus, jangan sampai semangat dari bawah justru padam dan pembinaan hanya berputar di pusat perkotaan. Padahal, bibit unggul banyak tersebar di surau-surau dan masjid-masjid kampung. Efisiensi boleh, tetapi jangan sampai mematikan akar.

Yang tidak kalah penting adalah keberlanjutan pembinaan. MTQ bukan sekadar ajang lomba tapi juga sarana pendidikan yang mengajarkan disiplin, kesabaran, dan kecintaan pada kitab suci. Maka pembinaan harus dilakukan secara rutin. Bukan hanya menjelang lomba.

Anak-anak harus dibiasakan membaca Al-Qur’an, menghafalnya, dan memahami maknanya. Bukan hanya dilatih untuk menang. Sebab, tujuan akhirnya bukan piala tapi membentuk akhlak dan karakter. Membentuk generasi yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara.

Selamat kepada Koto Tangah. Selamat kepada semua peserta. Semoga MTQ ini menjadi berkah. Namun, kesuksesan sejati bukan diukur dari berapa banyak medali dan piala yang diraih.

Kesuksesan sejati adalah ketika Al-Qur’an benar-benar membumi. Ketika anak-anak kita tumbuh dengan cinta pada kitab suci dan nilai-nilai Al-Qur’an menjadi pedoman hidup sehari-hari.

Itulah yang harus kita perjuangkan bersama. Bukan hanya pemerintah dan LPTQ, tetapi kita semua. Orang tua, guru, tokoh agama, dan seluruh masyarakat. Mari rawat prestasi ini. Jangan biarkan layu setelah acara selesai. *

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690