Sumbarpro.net
Ilia Topuria akhirnya angkat bicara setelah mengalami kekalahan pertama dalam karier profesionalnya. Bukan kekalahan biasa.
El Matador mengaku kehilangan penglihatan di kedua matanya saat bertarung melawan Justin Gaethje di UFC Freedom 250, yang digelar di halaman selatan Gedung Putih, Washington DC, pada 14 Juni 2026.
Yang bikin laga ini makin panas, muncul dugaan bahwa Gaethje melakukan eye poke ilegal di ronde pertama. Kontroversi pun pecah.
Kronologi yang Bikin Topuria Kehilangan Penglihatan
Semua berawal dari ronde pembuka. Sebuah pukulan Gaethje membuka luka di atas mata kanan Topuria. Tapi ada yang lebih serius dari itu.
Beberapa rekaman gerak lambat yang beredar di media sosial menunjukkan jempol sarung tinju Gaethje masuk ke rongga mata Topuria.
Topuria sendiri mengakui hal itu. Ia bilang penglihatan mata kanannya hilang sejak ronde pertama. Mata itu memang yang terkena jempol Gaethje.

Lama-kelamaan, penglihatan mata kirinya juga ikut terganggu. Topuria harus bertarung dalam kondisi buta sebagian.
Situs Marca mengutip pengakuan Topuria usai laga. “Saya hampir tidak bisa melihat,” ujarnya.
Dana White, CEO UFC, bahkan sempat berkomentar soal kondisi mata Topuria.
“Saya bukan dokter, tapi matanya terlihat seperti mengalami patah tulang orbital,” kata White.
Yang bikin kontroversi makin runyam, ada perbedaan pendapat antara dokter komisi independen dan dokter UFC.
Setelah ronde ketiga, kedua dokter itu berbeda kesimpulan soal apakah Topuria masih layak melanjutkan pertarungan. Wasit Mark Goddard sempat terlibat dalam diskusi itu.
Laga akhirnya tetap dilanjutkan meski ada sinyal berbeda dari salah satu dokter yang bertugas menjaga keselamatan petarung.
Goddard sempat meminta Topuria menunjukkan sesuatu di ronde keempat. Topuria memang melawan. Tapi ronde itu berakhir dengan ia terkapar di lantai setelah menerima lutut brutal ke arah tulang rusuknya.
Topuria bertahan sampai akhir ronde keempat. Matanya sudah bengkak parah. Kakaknya yang juga pelatih, Aleksandre Topuria, tak sanggup melihat adiknya terus menerima pukulan.
Ia akhirnya menghentikan pertarungan di sela ronde. Gaethje menang TKO melalui corner stoppage. Sabuk juara kelas ringan UFC berpindah tangan.
Topuria langsung dilarikan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan ia mengalami dua patah tulang orbital tanpa pergeseran.
Cedera paling parah ada di mata kanannya. Ia juga mengalami patah hidung.
Kabar baiknya, Topuria tidak memerlukan operasi. Pemulihan diperkirakan memakan waktu enam hingga delapan pekan.
Kontroversi eye poke makin memanas setelah Merab Dvalishvili, rekan dekat dan mantan juara bantamweight UFC, angkat bicara.
Dvalishvili yakin Topuria bertarung dalam kondisi buta sejak ronde pertama. Ia menyebut Gaethje sengaja mengulurkan jempolnya saat melepaskan pukulan.
“Menurut saya, Justin Gaethje melepaskan pukulan dengan jempolnya terbuka. Saya rasa dia melakukan eye poke. Ilia buta di kedua matanya,” ujar Dvalishvili.
Dvalishvili juga menjelaskan kenapa cedera mata sangat berpengaruh.
“Ketika mata Anda tertusuk atau tulang orbital Anda patah, Anda praktis buta. Itu sangat memengaruhi pertarungan,” katanya.
Ia menegaskan Topuria bukan kalah karena kualitas. Ia kalah karena tidak bisa melihat.
Gaethje Membantah Tuduhan
Justin Gaethje tidak tinggal diam. Ia membantah semua tuduhan bahwa dirinya curang.
Setelah Topuria dinyatakan pulih dan siap kembali, El Matador melontarkan sindiran pedas.
“Lain kali saya akan pastikan mereka memeriksa sarung tinju Justin supaya dia tidak memasang sesuatu yang aneh,” tulis Topuria di media sosial.
Gaethje merespons dengan nada meremehkan.
“94 hari dan yang bisa kamu hasilkan cuma alasan yang menyedihkan. Sama buruknya dengan penampilan terakhirmu. Belajar yang benar, nak,” balas Gaethje.
Hingga kini, tidak ada bukti resmi bahwa Gaethje sengaja melakukan eye poke. Tapi rekaman gerak lambat yang beredar di media sosial terus menjadi bahan perdebatan.
Sebagian penggemar yakin itu kecelakaan. Sebagian lagi yakin itu tindakan ilegal yang sengaja dilakukan.
Topuria Siap Kembali
Setelah tiga bulan menjalani pemulihan, Topuria akhirnya mengumumkan bahwa dirinya sudah mendapat izin untuk kembali bertarung.
“Tes medis terakhir selesai. Saya kembali,” tulisnya.
Topuria menyimpan dendam. Ia ingin merebut kembali sabuk juara kelas ringan UFC. Duel ulang melawan Gaethje menjadi salah satu opsi yang paling mungkin.
Satu hal yang pasti, laga di Gedung Putih itu tidak akan pernah hilang dari ingatan. Bukan karena lokasinya yang bersejarah.
Tapi karena kontroversi yang menyelimutinya. Cedera mata Ilia Topuria menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah UFC modern. (ak/*)
