ORANG Minang punya cara unik menasihati tanpa terdengar menggurui. Nasihat itu datang lewat pepatah, petitih, dan mamangan yang diwariskan turun-temurun.
Salah satunya berbunyi manyuruak hilang-hilang. Secara harfiah, manyuruak berarti bersembunyi, sementara hilang-hilang berarti tak nampak sedikipun.
Jadi, manyuruak hilang-hilang bisa dimaknai sebagai upaya menyembunyikan diri sampai tidak tersisa sedikit pun yang terlihat.
Namun, pepatah Minang jarang berhenti pada arti kata. Ada lapisan makna yang lebih dalam.
Dalam falsafah Minangkabau, harga diri dan aib adalah dua hal yang dijaga betul. Malu bukan sekadar perasaan pribadi, melainkan sesuatu yang menyeret nama keluarga dan kaum.
Karena itu, ketika seseorang berbuat salah, ajaran adat menuntut orang tersebut menyembunyikannya dengan sungguh-sungguh, bukan setengah-setengah.
Pepatah ini sejajar dengan ungkapan makan habih-habih, yang berarti kalau makan, habiskanlah. Kalau bersembunyi, hilanglah sepenuhnya.
Tetapi di sinilah letak ironinya. Sembunyi yang ‘tanggung’ justru sering berbalik menjadi sorotan.
Ada pepatah Minang lain yang menyebut manyuruak di ilalang sahalai, yang menggambarkan orang yang menyembunyikan kesalahannya, tetapi malah membuat kesalahan itu semakin tampak luas bagi masyarakat.
Ilalang adalah sejenis rumput. Bersembunyi di balik sehelai rumput jelas bukan tempat yang aman. Semakin seseorang berusaha menutupi, semakin besar pula rasa ingin tahu orang lain, dan semakin terbuka pula apa yang seharusnya tetap tertutup.
Dalam kehidupan sehari-hari, pola seperti ini tidak sulit ditemukan. Ada orang yang diduga melakukan sesuatu yang tidak pantas, lalu berusaha menutupinya.
Tetapi upaya itu dilakukan dengan cara yang setengah hati. Alasan yang dibangun tidak konsisten. Cerita yang disampaikan berubah-ubah. Sikap yang ditunjukkan justru memancing curiga.
Bukannya aibnya terkubur rapat, jejak-jejak kecil yang tertinggal malah menjadi petunjuk yang membuka semuanya.
Pepatah Minang sudah lama mengingatkan bahwa menyembunyikan sesuatu butuh ketegasan.
Jika tidak sanggup menyembunyikan sepenuhnya, lebih baik berterus terang. Sebab sembunyi yang tanggung hanya akan memperpanjang masalah dan memperbesar rasa malu.
Namun, pepatah ini juga bukan ajakan untuk menutupi kesalahan demi melindungi citra. Dalam adat Minangkabau, menjaga aib memang penting, tetapi ada batas antara menjaga martabat dan melindungi pelaku kesalahan.
Ketika kesalahan sudah menyangkut kepentingan orang banyak, menutupinya rapat-rapat justru bisa menjadi persoalan baru. Di sinilah kearifan lokal bertemu dengan tuntutan kejujuran.
Pepatah manyuruak hilang-hilang lebih tepat dibaca sebagai peringatan tentang konsekuensi. Kalau memilih bersembunyi, bersembunyilah dengan tuntas dan bertanggung jawab.
Kalau tidak mampu, jangan berpura-pura. Sebab pada akhirnya, apa yang ditutup dengan cara tanggung akan terbuka dengan sendirinya, dan biasanya dengan cara yang jauh lebih memalukan daripada jika diakui sejak awal.
Seberapa pun bangkai ditutupi pasti bau busuknya akan tercium juga, dan sepandai-pandai tupai melompat suatu saat pasti akan jatuh juga. *
