JAKARTA, Sumbarpro – Pembebasan empat awak kapal WNI dari kapal tanker MT Honour 25 yang disandera perompak Somalia dilakukan melalui operasi bersenjata pada 29 September 2026.
Duta Besar Indonesia untuk Kenya merangkap Somalia, Witjaksono Adji, mengungkapkan bahwa operasi penyerangan tersebut dilakukan untuk membebaskan para ABK.
“Informasi yang kemudian kami terima justru menyebut operasi penyerangan sudah dilakukan untuk membebaskan para ABK di MT Honour 25,” kata Witjaksono, Selasa (6/10/2026).
Operasi itu dilakukan personel militer Puntland, wilayah semi-otonomi di Somalia. Para WNI kemudian menjalani pemulihan di Puntland sebelum dipulangkan ke tanah air.
Terkait upaya pembebasan, Kemlu RI melibatkan perwakilan RI di beberapa negara, termasuk KBRI Nairobi di Kenya, KBRI Islamabad, dan KJRI Karachi di Pakistan.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, menyatakan pihaknya telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan kebutuhan logistik para WNI yang disandera terpenuhi, serta gaji mereka tetap dibayarkan oleh pemberi kerja.
“Dalam proses pembebasannya, Kemlu RI melakukan diplomasi secara tertutup. Hal itu dilakukan untuk mencegah ada proses yang merugikan pembebasan,” kata Heni.
Berkat sinergi diplomasi pemerintah Indonesia, Kapten Ashari bersama tiga kru WNI lainnya berhasil dibebaskan.

Pembajakan MT Honour 25 adalah satu dari sejumlah insiden perompakan yang kembali marak di Somalia pada 2026. Sejak April, sedikitnya 15 serangan dilaporkan terjadi, angka tertinggi sejak 2013.
Puntland police menyebut 16 terduga perompak telah ditangkap, sementara pelaku lainnya melarikan diri dan masih dalam pengejaran.
Sebelumnya, pada 3 Oktober 2026, tiga awak kapal asal Pakistan yang masih tersisa berhasil diselamatkan dan dipulangkan ke Pakistan.
Kapal tanker MT Honour 25 sendiri dibajak di perairan Hafun, Somalia, pada 21 April 2026. Kapal itu mengangkut sekitar 18.500 barel minyak menuju Mogadishu, Somalia, dan diawaki 17 pelaut.
Empat di antaranya WNI, yakni Ashari Samadikun selaku kapten asal Kabupaten Gowa, Adi Faizal selaku 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, dan Fiki Mutakin asal Bogor.
Kelima kru yang tewas disebut terdiri atas tiga warga negara Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar.
“Para perompak tersebut menewaskan tiga warga negara Pakistan, satu warga negara India, dan satu warga negara Myanmar,” demikian keterangan Puntland Maritime Police Force.
Lima sandera itu tewas sebelum aparat Puntland menaiki kapal MT Honour 25.
Tiga korban tewas asal Pakistan diidentifikasi sebagai Rafi Ullah Khan, Syed Kashif Umer, dan Mahmood Ahmed Ansari.
Sementara korban asal India bernama Mohammad Tanvir Uz Zaman, warga Nawab Ali Lane, yang bekerja sebagai juru masak. Korban asal Myanmar belum diungkap identitasnya.
Empat awak kapal lainnya juga mengalami luka-luka. Salah satunya adalah Fiki Mutakin, WNI asal Bogor, yang terkena tembakan di kaki kanan saat operasi penyelamatan berlangsung. (edt/*)
