Daftar Isi
Sumbarpro – Pernah nggak sih, Bunda, melihat Si Kecil tiba-tiba nangis kencang, mukanya memerah, kedua tangan mengepal, dan kakinya ditarik ke arah perut? Sudah disusui, digendong, diayun-ayun, tapi tangisannya tetap nggak berhenti. Hati rasanya hancur, apalagi kalau kita nggak tahu apa yang salah.
Salah satu penyebab paling umum bayi rewel berkepanjangan adalah sakit perut. Sistem pencernaannya masih mungil dan sedang belajar bekerja, jadi wajar banget kalau kadang ada ‘trouble’ di sana.
Yuk, kita bongkar satu per satu kenapa perut Si Kecil bisa terasa nggak nyaman dan gimana cara ampuh menghadapinya!
Tanda-Tanda Bayi Sakit Perut
Bayi belum bisa bilang ‘perutku sakit, Bun’. Tapi tubuhnya ngomong kok! Bunda bisa jadi detektif dengan mengenali ciri-ciri ini:
- Rewel atau mudah marah tanpa sebab jelas
- Menangis terus-menerus dan sulit ditenangkan
- Menarik kedua kaki ke arah perut atau lutut diangkat ke dada
- Wajah memerah, meringis, atau ekspresi kesakitan
- Perut terlihat kembung atau terasa keras
- Sulit tidur dan gelisah
- Tidak mau menyusu atau makan dengan baik
6 Penyebab Utama Sakit Perut pada Bayi
1. Kolik (‘Jam Nangis’yang Bikin Deg-degan)
- Kolik adalah penyebab nomor satu tangisan bayi yang nggak berhenti-berhenti. Ini kondisi ketika bayi sehat menangis berlebihan, biasanya di usia 2 minggu hingga 4 bulan. Berikut ciri khas kolik:
- Pola ‘3-3-3’: nangis >3 jam sehari, >3 hari seminggu, selama ≥3 minggu
- Terjadi di jam yang sama setiap hari (biasanya sore atau malam)
- Tangisan bernada tinggi dan melengking
- Kaki dan tangan terangkat ke perut, tangan mengepal, punggung melengkung
Penyebab kolik belum diketahui pasti, tapi diduga karena sistem pencernaan yang masih berkembang atau sistem saraf yang sensitif terhadap rangsangan. Kabar baiknya, kolik nggak berbahaya dan akan hilang sendiri saat bayi 3-4 bulan.

2. Gas Berlebihan (Perut Kembung)
Bayi sering menelan udara saat menyusu atau menangis. Udara ini terperangkap di perut dan bikin nggak nyaman banget. Gas biasanya paling sering terjadi di usia 6–8 minggu dan membaik sekitar usia 3 bulan.
3. Alergi atau Intoleransi Makanan
Paling sering karena protein susu sapi, baik dari susu formula maupun susu yang dikonsumsi Bunda. Gejalanya perut kembung, diare, muntah, rewel setelah menyusu, ruam kulit atau eksim. Alergi susu sapi memengaruhi sekitar 1 dari 50 bayi.
4. Sembelit (Susah BAB)
Bayi yang sulit BAB dengan feses keras dan kering bisa kesakitan dan menangis. Ini sering terjadi saat mulai MPASI atau perubahan jenis susu formula.
5. GERD (Asam Lambung Naik)
Gumoh yang terlalu sering bisa berkembang jadi GERD. Gejalanya bayi rewel, nggak mau menyusu, berat badan sulit naik, batuk berulang, muntah. Kondisi ini paling sering terjadi di bawah usia 1 tahun dan biasanya membaik seiring waktu.
6. Perubahan Pola Makan (MPASI)
Saat mulai MPASI, sistem pencernaan bayi harus beradaptasi dengan makanan barudan ini bisa bikin kembung, lebih sering kentut, atau perubahan BAB. Ini normal dan sementara kok, Bunda!
10 Cara Jitu Mengatasi Sakit Perut Bayi
Langsung Cek dan Lakukan hal berikut:
1. Sendawakan Bayi dengan Benar
Setelah menyusu, posisikan bayi tegak di dada atau bahu Bunda, tepuk punggungnya pelan sampai bersendawa. Ini membantu mengeluarkan gas yang tertelan saat menyusu.
2. Pijat Perut dengan Lembut
Baringkan bayi telentang, oleskan minyak telon atau baby oil, lalu pijat perutnya searah jarum jam dengan gerakan melingkar. Bisa juga pakai teknik ‘I Love U’ di mana pijatan membentuk huruf I, L, dan U terbalik di perut bayi.
3. Gerakan ‘Bersepeda’
Pegang kedua kaki bayi dan gerakkan seperti mengayuh sepeda. Ini membantu mendorong gas keluar dan meredakan kembung.
4. Kompres Hangat di Perut
Tempelkan handuk hangat (bukan panas!) di perut bayi. Hangatnya bikin otot perut rileks dan mengurangi kram.
5. ‘Tummy Time’
Biarkan bayi tengkurap beberapa menit setiap hari. Posisi ini membantu mengeluarkan gas dan memperkuat otot perutnya.
6. Perbaiki Posisi Menyusu
Saat menyusu, pastikan kepala bayi lebih tinggi dari perutnya. Ini bikin susu turun ke dasar perut dan memudahkan sendawa. Untuk dot, pilih yang alirannya lambat agar bayi nggak kebanyakan menelan udara.
7. Gendong Tegak Setelah Menyusu
Jangan langsung baringkan bayi setelah makan. Gendong tegak selama 15–30 menit biar makanannya turun dan gasnya keluar.
8. Mandi Air Hangat
Air hangat bisa merelaksasi otot-otot perut yang tegang. Efek rileksnya bikin Si Kecil lebih tenang.
9. Bedong (Swaddling)
Bedong bayi dengan kain lembut. Ini memberi rasa aman seperti di dalam rahim dan membantu menenangkan.
10. Perhatikan Pola Makan Bunda (untuk Bayi ASI)
Jika bayi ASI rewel terus, coba Bunda kurangi konsumsi makanan pemicu gas, seperti kubis, brokoli, kembang kol, bawang, atau produk susu.
Kapan Harus Ganti Susu Formula?
Jika Bunda curiga Si Kecil alergi susu sapi dengan gejala seperti sakit perut terus-menerus, diare, muntah, atau ruam kulit, konsultasikan ke dokter. Dokter mungkin akan menyarankan susu formula hipoalergenik (extensively hydrolyzed formula). Untuk bayi ASI, dokter mungkin minta Bunda menghindari semua produk susu sapi.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Meski sebagian besar sakit perut bayi nggak berbahaya, Bunda harus segera bawa Si Kecil ke dokter jika ada tanda-tanda ini:
- Demam 38°C atau lebih
- Muntah proyektil (muntah menyembur kuat) atau muntah berwarna hijau/berdarah
- Feses berdarah atau berlendir, terutama jika menyerupai selai kismis merah (bisa jadi tanda intususepsi/usus masuk ke usus)
- Bayi lemas, sulit dibangunkan, atau nggak mau menyusu sama sekali
- Berat badan tidak naik atau bahkan turun
- Tangisan terus-menerus tanpa henti dan Bunda benar-benar nggak bisa menenangkannya
Intususepsi adalah kondisi darurat! Jika bayi tiba-tiba menangis keras, lalu diam, lalu nangis lagi—siklus ini berulang setiap 15–20 menit—ditambah muntah dan BAB berdarah, langsung bawa ke UGD!
Menghadapi bayi yang nangis terus karena sakit perut memang ujian kesabaran luar biasa. Bunda sudah melakukan yang terbaik mulai dari memijat, menggendong, menyusui, hingga mencari tahu penyebabnya. Ingat, ini semua adalah fase. Sistem pencernaan Si Kecil masih belajar, dan semua ketidaknyamanan ini akan berlalu seiring bertambahnya usia. (ak/*)
Informasi ini bersifat umum. Untuk saran atau diagnosis medis, hubungi tenaga medis profesional.



