Gagal ke Piala Dunia: Timnas Indonesia Butuh Sistem, Bukan Euforia

Senin, 13 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemain Tim Nasional Indonesia, Joey Pelupessy. (Ist.)

Pemain Tim Nasional Indonesia, Joey Pelupessy. (Ist.)

Sumbarpro — Kekalahan tipis Indonesia dari Irak dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026, Minggu dinihari (12/10/2025), menandai akhir dari perjalanan panjang Tim Garuda menuju pentas dunia.

Meski berakhir dengan skor 0-1, pertandingan di Jeddah itu meninggalkan kesan mendalam.

Timnas Indonesia menunjukkan semangat juang dan peningkatan kualitas permainan, namun hasil akhir tetap menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal keberanian dan motivasi, tetapi juga soal sistem, perencanaan, dan pembinaan jangka panjang.

Pernyataan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh harus dibaca lebih jauh dari sekadar reaksi emosional usai kekalahan.

Evaluasi tidak cukup berhenti pada level teknis, seperti strategi pelatih atau performa pemain, tetapi harus menyentuh akar persoalan yang selama ini membelit sepak bola nasional.

Mulai dari tata kelola organisasi, transparansi kompetisi, hingga pembinaan usia muda yang belum sepenuhnya sistematis.

PSSI dan pemerintah kerap berbicara tentang visi besar membawa Indonesia ke Piala Dunia, namun cita-cita itu tidak akan berarti tanpa fondasi yang kuat.

Selama struktur kompetisi masih rapuh, infrastruktur belum merata, dan pembinaan di daerah berjalan tanpa arah, harapan tampil di panggung dunia akan terus menjadi mimpi yang tertunda.

Baca Juga:  Marselino Ferdinan Resmi Gabung AS Trenčín, Mulai Latihan Perdana

Kekalahan di Jeddah seharusnya menjadi momentum untuk mengakhiri pola lama membangun sepak bola berdasarkan euforia, bukan strategi.

Meski begitu, apresiasi tetap layak diberikan kepada para pemain dan tim pelatih.

Mereka telah mencatat sejarah baru dengan membawa Indonesia menembus putaran keempat kualifikasi untuk pertama kalinya.

Pencapaian itu menunjukkan bahwa potensi besar sepak bola Indonesia nyata adanya.

Namun potensi tanpa sistem ibarat kapal tanpa kompas, bisa berlayar jauh tetapi mudah tersesat.

Pemerintah, yang kini mulai aktif dalam urusan olahraga, perlu memastikan keterlibatannya tidak sebatas simbol dukungan.

Intervensi yang sehat berarti mendorong pembenahan struktur dan pengawasan terhadap federasi, bukan mengambil alih perannya.

Negara hadir untuk memastikan tata kelola olahraga berjalan profesional dan berkeadilan.

Jika tidak, siklus kegagalan akan terus berulang meski wajah pelatih dan pemain berganti.

PSSI juga harus berani melakukan refleksi diri.

Kepemimpinan yang efektif bukan hanya tentang mengelola tim nasional, tetapi juga membangun ekosistem sepak bola yang sehat dari akar rumput.

Kompetisi usia dini, fasilitas latihan, dan pembinaan pelatih lokal harus menjadi prioritas utama.

Mimpi tampil di Piala Dunia hanya mungkin terwujud jika setiap anak Indonesia punya kesempatan yang sama untuk berkembang dalam sistem yang tertata.

Baca Juga:  Tim U-16 Indonesia Shalat Idul Adha dan Sumbang Hewan Kurban di Solo

Di sisi lain, publik pun perlu mengubah cara pandang terhadap kegagalan.

Kekecewaan memang wajar, tetapi dukungan yang konsisten jauh lebih berarti daripada kemarahan sesaat.

Sepak bola adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.

Tidak ada prestasi instan, apalagi di tengah sistem yang baru berbenah.

Harapan ke depan, evaluasi yang dijanjikan pemerintah benar-benar dijalankan dengan transparan dan melibatkan pihak independen.

Evaluasi harus menghasilkan kebijakan nyata, bukan sekadar laporan seremonial.

Jika evaluasi ini mampu melahirkan langkah perbaikan menyeluruh, maka kekalahan di Jeddah akan menjadi titik balik, bukan akhir perjalanan.

Timnas Indonesia memang gagal melangkah ke Piala Dunia, tetapi kegagalan ini dapat menjadi awal dari kebangkitan yang lebih matang.

Yang dibutuhkan kini bukan sekadar semangat baru, melainkan keberanian untuk membangun ulang sistem sepak bola nasional dengan kesungguhan dan visi jangka panjang.

Dari kekalahan ini, bangsa harus belajar bahwa prestasi sejati lahir dari perencanaan yang berkelanjutan, bukan dari harapan yang bergantung pada keberuntungan. (ak)

Follow WhatsApp Channel sumbarpro.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membongkar Tembok Kemustahilan di Panggung Piala Dunia
Enam Wakil Eropa, Satu Kejutan Afrika, dan Satu Harapan Amerika Selatan: Inilah Peta Persaingan Perempat Final Piala Dunia 2026
Cristiano Ronaldo Terjebak dalam Standar yang Ia Ciptakan Sendiri
Penantian 72 Tahun Swiss Berakhir, Kolombia Tumbang di Adu Penalti
Selebrasi ‘Dayung Viking’ Norwegia Mengguncang Panggung Piala Dunia
Ciptakan Rekor demi Rekor, Messi Sang Legenda Abadi di Panggung Piala Dunia
Dari Gagal Penalti Jadi Pahlawan! Messi Bangkit, Argentina Selamat dari Mimpi Buruk Mesir
Perang Sepatu Emas Trio Penyerang ‘Gacor’
Intisari Berita: Kekalahan Timnas Indonesia dari Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026 jadi momentum evaluasi menyeluruh. Pemerintah dan PSSI diingatkan pentingnya membangun sistem, bukan euforia.

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:52 WIB

Enam Wakil Eropa, Satu Kejutan Afrika, dan Satu Harapan Amerika Selatan: Inilah Peta Persaingan Perempat Final Piala Dunia 2026

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:19 WIB

Cristiano Ronaldo Terjebak dalam Standar yang Ia Ciptakan Sendiri

Rabu, 8 Juli 2026 - 08:16 WIB

Penantian 72 Tahun Swiss Berakhir, Kolombia Tumbang di Adu Penalti

Rabu, 8 Juli 2026 - 04:21 WIB

Selebrasi ‘Dayung Viking’ Norwegia Mengguncang Panggung Piala Dunia

Rabu, 8 Juli 2026 - 03:18 WIB

Ciptakan Rekor demi Rekor, Messi Sang Legenda Abadi di Panggung Piala Dunia

Berita Terbaru